Showing posts with label Akuntansi. Show all posts
Showing posts with label Akuntansi. Show all posts

Saturday, 15 June 2013

Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI)

Berikut ini adalah pengertian Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI) - asal usul Fidusia - B. Definisi Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI) - C. Ciri – Ciri – Persyaratan - Prosedur Pemberian - Contoh Kasus dalam Fidusia yang akan Kerozzi bagikan. Silakan dibaca dan dijadikan referensi.
 

Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI)


A. Asal Usul Fidusia

Fidusia menurut asal katanya berasal dari bahasa Romawi fides yang berarti kepercayaan. Fidusia merupakan istilah yang sudah lama dikenal dalam bahasa Indonesia. Begitu pula istilah ini digunakan dalam Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Dalam terminologi Belanda istilah ini sering disebut secara lengkap yaitu Fiduciare Eigendom Overdracht (F.E.O.) yaitu penyerahan hak milik secara kepercayaan. Sedangkan dalam istilah bahasa Inggris disebut Fiduciary Transfer of Ownership.
 
Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI)
Pengertian fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda. Sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia terdapat berbagai pengaturan mengenai fidusia diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun telah memberikan kedudukan fidusia sebagai lembaga jaminan yang diakui undang-undang. Pada Pasal 12 Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa,
 
Rumah susun berikut tanah tempat bangunan itu berdiri serta benda lainnya yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut dapat dijadikan jaminan utang dengan :
1. dibebani hipotik, jika tanahnya hak milik atau HGB
2. dibebani fidusia, jika tanahnya hak pakai atas tanah negara.

Hipotik atau fidusia dapat juga dibebankan atas tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) beserta rumah susun yang akan dibangun sebagai jaminan pelunasan kredit yang dimakksudkan untuk membiayai pelaksanaan pembangunan rumah susun yang direncanakan di atas tanah yang bersangkutan dan yang pemberian kreditnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan pelaksanaan pembangunan rumah susun tersebut.

Jaminan Fidusia adalah jaminan kebendaan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud sehubungan dengan hutang-piutang antara debitur dan kreditur. Jaminan fidusia diberikan oleh debitur kepada kreditur untuk menjamin pelunasan hutangnya.
 
Jaminan Fidusia diatur dalam Undang-undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Jaminan fidusia ini memberikan kedudukan yang diutamakan privilege kepada penerima fidusia terhadap kreditor lainnya.
 
Dari definisi yang diberikan jelas bagi kita bahwa Fidusia dibedakan dari Jaminan Fidusia, dimana Fidusia merupakan suatu proses pengalihan hak kepemilikan dan Jaminan Fidusia adalah jaminan yang diberikan dalam bentuk fidusia.
 

B. Definisi Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI)

Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI) adalah pinjaman (kredit) dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan konstruksi penjaminan kredit secara jaminan fidusia, yang diberikan PERUM Pegadaian kepada pengusaha mikro dan pengusaha kecil yang membutuhkan dana untuk keperluan pengembangan usahanya
 
Kreasi juga diartikan sebagai Kredit Angsuran Fidusia yang merupakan pemberian pinjaman kepada pengusaha mikro-kecil (dalam rangka pengembangan usaha) dengan skim penjaminan secara fidusia dan pengembalian pinjamannya dilakukan melalui angsuran per-bulan dalam jangka waktu kredit 12 s.d. 36 bulan. Perolehan kredit dengan cara menyerahkan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) sebagai agunan dengan bunga pinjaman 1% per-bulan, flat. Kredit Kreasi merupakan modifikasi dari produk lama yang sebelumnya dikenal dengan nama Kredit Kelayakan Usaha Pegadaian.
 

C. Ciri – Ciri Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI):

- Prosedur pengajuannya sederhana, mudah dan cepat.
- Dalam tempo 3 hari kredit sudah bisa cair.
- KREASI dapat diperoleh di kantor cabang diseluruh Indonesia.
- Jangka waktu pinjaman fleksibel, mulai dari 12 bulan, 18 bulan, 24 bulan.
- Sewa Modal (bunga pinjaman) relatif murah, hanya 0.9% per bulan, flat.
- Agunan BPKB kendaraan bermotor (mobil plat kuning / hitam, serta sepeda motor)
sehingga kendaraan dapat tetap dipergunakan untuk mendukung operasional usaha.
- Pelunasan kredit dilakukan dengan angsuran tetap setiap bulan.
- Pelunasan sekaligus dapat dilakukan sewaktu-waktu dengan pemberian diskon untuk sewa modal.
 

D. Persyaratan Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI) :

1. Fotokopi KTP dan Kartu Keluarga
2. Menyerahkan dokumen usaha yang sah
3. Usaha telah berjalan minimal 1(satu) tahun
4. Menyerahkan dokumen kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB asli, fotokopi STNK, dan faktur pembelian)
5. Memenuhi kriteria kelayakan usaha
6. Peminjam Sehat jasmani dan rohani tidak mengalami sakit kanker, Jika mengalami diharuskan mendeteksi dahulu Penyebab, Gejala dan Cara Pengobatan kanker lidah tersebut. hehehe..
 

E. Prosedur Pemberian Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI):

1. Nasabah mengisi formulir aplikasi Kredit KREASI.
2. Nasabah menyerahkan dokumen-dokumen usaha, agunan dan persyaratan lainnya.
3. Petugas Pegadaian memeriksa keabsahan dokumen yang diserahkan.
4. Petugas melakukan survey ke tempat usaha untuk menganalisis kelayakan usaha serta menaksir agunan.
5. Nasabah bersama istri / suami menandatangani surat perjanjian kredit
6. Pencairan kredit.
 

F. Contoh Kasus Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI):

PT. NV MASS telah ditunjuk oleh PT. STAR MOTOR untuk menjadi agen penyaluran dan penjualan Sedan Mercedes. PT. NV MASS mendapat pembiayaan kredit exploitasi dari BANK MANDIRI sebesar Rp. 150.000.000.000,- untuk pembelian stock mobil Baby Benz dari PT. STAR MOTOR. Sebagai jaminan pelunasan hutang PT. NV MASS, maka seluruh kendaraan yang dibeli dari PT. STAR MOTOR diserahkan sebagai agunan utama.
 
Pertanyaan
I. PT. NV MASS menjaminkan seluruh stock kendaraan yang dibelinya kepada BANK MANDIRI dengan pengikatan fidusia dan kendaraan tersebut dijual kepada masyarakat pada umumnya secara tunai.
 
a) Mengapa BANK MANDIRI mensyaratkan seluruh stock kendaraan yang dibiayai harus diserahkan sebagai jaminan dan mengapa bentuknya dengan fidusia? Jelaskan pertimbangannya dan sebutkan ketentuan undang-undangnya lengkap dengan nomor, tahun dan saat berlakunya !
 
Jawaban
• Karena kredit yang diberikan oleh BANK MANDIRI kepada PT. NV MASS adalah kredit exploitasi pembelian kendaraan sehingga jaminan pokok yang diminta oleh BANK MANDIRI adalah seluruh stock kendaraan yang dibiayai berdasarkan ketentuan dalam pemberian kredit.
 
• Bentuk jaminannya adalah fidusia karena merupakan lembaga jaminan yang memberikan kedudukan yang diutamakan pada penerima dalam hal ini BANK MANDIRI terhadap kreditor lainnya, jika tidak memenuhi janjinya maka penerima fidusia atau BANK MANDIRI mempunyai hak untuk menjual benda yang dijaminkan atas kekuasaannya sendiri karena sertifikat fidusia mempunyai kekuatan seperti putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sekalipun barang yang diserahkan sebagai jaminan tetap berada dalam penguasaan si pemberi fidusia.
 
• Dasar ketetapan undang-undangnya adalah Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang berlaku tanggal 30 September 1999 Pasal 1 angka 2, Pasal 15 angka 2 dan 3.
 
b) Jelaskan tahapan pembebanan jaminan fidusia sampai dengan diperolehnya Sertifikat Jaminan Fidusia
 
Jawaban
1. Tahapan pembebanan fidusia
• Pembuatan perjanjian pokok tentang hutang atau kredit yang menimbulkan hak dan kewajiban antara BANK MANDIRI dengan PT. NV MASS dapat dibuat secara di bawah tangan atau Notaris.
• Pembuatan akta pembebanan jaminan fidusia harus dengan Akta Notaris dan dalam bahasa Indonesia.
 
2. Pendaftaran Fidusia
• BANK MANDIRI atau wakilnya mengajukan permohonan pendaftaran jaminan fidusia dengan melampirkan pernyataan pendaftaran fidusia yang memuat antara lain :
- Identitas pemberi dan penerima fidusia
- Tanggal, nomor akta dan tempat notaris yang membuat.
- Data perjanjian.
- Obyek jaminan fidusia.
- Nilai penjamin.
- Nilai obyek jaminan fidusia.
• Mencatatkan jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal permohonan penerimaan.
• Menerbitkan dan menyerahkan sertifikat fidusia kepada penerima fidusia atau wakilnya pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran.
 
II.a) Apakah PT. NV. MASS sebagai pemberi fidusia harus meminta ijin kepada BANK MANDIRI untuk penjualan kendaraan tersebut? Jelaskan sesuai dengan ketentuan undang-undang !
 
Jawaban















































































Tidak perlu meminta ijin, karena yang dibiayai dengan kredit exploitasi dari BANK MANDIRI adalah barang persediaan. Hal ini mengacu pada ketentuan Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia pasal 21 ayat (1) : pemberian fidusia dapat mengalihkan benda persediaan yang menjadi obyek jaminan fidusia dengan cara dan prosedur yang lazim dilakukan dalam usaha perdagangan.
 
b) Apa sanksinya apabila kendaraan tersebut bukan digolongkan sebagai inventory dan dijual oleh PT. NV MASS tanpa ijin dari BANK MANDIRI? Jelaskan jawaban saudara dengan menyebutkan pasal-pasal dalam Undang-undang Jaminan Fidusia !
 
Jawaban
Sanksinya dapat dikenakan penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) kepada PT. NV. MASS selaku pembeli fidusia hal ini sesuai dengan pasal 36 Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Karena menurut ketentuan pasal 23 ayat (2) Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia pemberi fidusia dilarang mengalihkan, menggadaikan kepada pihak lain benda yang menjadi obyek jaminan fidusia yang tidak merupakan benda persediaan kecuali telah ada persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fidusia
 

G. Daftar Pustaka

http://www.bumn.go.id/pegadaian/en/tentang-kami/product/
http://upcsilaut.wordpress.com/kreasi-kredit-angsuran-sistem-fidusia/
http://id.wikipedia.org/wiki/Jaminan_fidusia
http://lastikafebri.blogspot.com/2011/11/pengertian-fidusia-dan-kasus.html
 
Sekian dari saya makalah Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI) pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat dan membawa jalan keluar bagi anda yang ingin mencoba kredit sesuatu. Terima kasih sudah menyempatkan mampir disini.












Sunday, 5 May 2013

BUDAYA ORGANISASI

BUDAYA ORGANISASI - INSTITUSI DAN HUBUNGANNYA DENGAN BUDAYA ORGANISASI - KARAKTERISTIK UMUM DALAM MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI - PERBANDINGAN BUDAYA YANG LEMAH DAN YANG KUAT DALAM ORGANISASI - DAMPAK BUDAYA ORGANISASI PADA MASYARAKAT - FAKTOR PENENTU SEBUAH BUDAYA ORGANISASI merupakan pembahasan kerozzi pada kesempatan ini setelah beberapa hari yang lalu sempat promosi jualan Ultrabook Terbaru
.
 
A. INSTITUSI DAN HUBUNGANNYA DENGAN BUDAYA ORGANISASI
- Pengertian Institusi
Institusi atau biasa dikenal dengan Lembaga sosial adalah sekumpulan norma dan tata kelakuan yang terorganisasi yang berkisar pada kegiatan pokok manusia.
Selain itu institusi juga disebut dengan pranata yang merupakan norma atau aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. Norma/aturan dalam pranata berbentuk tertulis (undang-undang dasar, undang-undang yang berlaku, sanksi sesuai hukum resmi yang berlaku) dan tidak tertulis (hukum adat, kebiasaan yang berlaku, sanksinya ialah sanksi sosial/moral (misalkan dikucilkan)). Pranata bersifat mengikat dan relatif lama serta memiliki ciri-ciri tertentu yaitu simbol, nilai, aturan main, tujuan, kelengkapan, dan umur.
 
- Pengertian Budaya Organisasi
Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
Menurut Robbins (2001:525), budaya organisasi merupakan sistem makna bersama terhadap nilai-nilai primer yang dianut bersama dan dihargai organisasi, yang berfungsi menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dengan organisasi lainnya, menciptakan rasa identitas bagi para anggota organisasi, mempermudah timbulnya komitmen kolektif terhadap organisasi, meningkatkan kemantapan sistem sosial, serta menciptakan mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu membentuk sikap dan perilaku para anggota organisasi. Deal dan Kennedy sebagaimana dikutip Robbins (2001:479) menjelaskan budaya organisasi sebagai nilai-nilai dominan yang didukung organisasi.
 
Gibson et.al. (1996:77) merumuskan: “kultur organisasi mengandung bauran nilai-nilai, kepercayaan, asumsi, persepsi, norma, kekhasan dan pola perilaku”.
Selanjutnya, Dr. Suwarto, MS menyampaikan definisi-definisi budaya organisasi dalam persepsi sejumlah ahli sebagai berikut.
1. Suatu sistem makna bersama/persepsi yang dianut oleh anggota-anggota organisasi (Robbins, 2005).
2. Sejumlah pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan  yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi (Stoner, 1995).
3. Pola asumsi dasar bentukan, temuan, atau pengembangan kelompok yang bekerja cukup baik dalam mengatasi masalah sehingga perlu diajarkan kepada anggota baru (Schein, 1991, Luthans, 1998)
4. Pemprograman mental efektif (Hofstede, 1983).
5. Pandangan hidup dalam organisasi (Hatch, 1997).
6. Berkaitan dengan makna bersama, nilai, sikap dan keyakinan, kebiasaan dan pengharapan dari keseluruhan anggota organisasi (Nicholson, 1997, Juechter, 1998).
 
- Hubungan Institusi dan Budaya Organisasi
1. Pembentukan budaya dalam organisasi diawali oleh para pendiri (founder) institusi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. Seseorang mempunyai gagasan untuk mendirikan organisasi.
b. Ia menggali dan mengarahkan sumber-sumber baik orang yang sepaham dan setujuan dengan dia (SDM), biaya dan teknologi.
c. Mereka meletakan dasar organisasi berupa susunan organisasi dan tata kerja.
2. Budaya Organisasi sangat berpengaruh terhadap perilaku dalam sebuah organisasi. Karena budaya organisasi melibatkan ekspektasi, nilai, dan sikap bersama yang dapat memberikan pengaruh pada individu, kelompok / institusi, dan proses organisasi. Budaya organisasi juga sebagai perspektif untuk memahami perilaku individu dan kelompok dalam suatu organisasi.
 
B. KARAKTERISTIK UMUM DALAM MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI
Unsur-unsur yang dapat dijadikan landasan bagi terbentuknya budaya organisasi antara lain :
a.      Pendirian
Pendirian bersifat abstrak. Ia terlihat melalui sikap. Pendirian dapat diukur berdasarkan keteguhan atau kekuatannya teguh sampai kepada goyah. Sikap diukur dengan tolak positive, negative, tetap atau berubah. Pemberian bersifat given dan indigeneus. Baginya berubah berarti mati. Kalau sikap seseorang berubah, maka perubahan itu tidak bersumber dari pendirian melainkan dari factor exsternal.
 
b.      Sikap
Sikap adalah kecenderungan jiwa terhadap sesuatu. Ia menunjukan arah, potensi dan dorongan menuju sesuatu itu.
 
c.       Perilaku
Perilaku adalah operasionalisasi dari aktualisasi sikap seseorang atau sekelompok dalam atau terhadap suatu (situasi dan kondisi) lingkungan (masyarakat, alam, tekhnologi, atau organisasi) yang kemudian diperagakan. Supaya perilaku dapat diamati dan direkam.
 
C. PERBANDINGAN BUDAYA YANG LEMAH DAN YANG KUAT DALAM ORGANISASI
Budaya yang kuat :
1) Budaya yang menanamkan nilai-nilai utama secara kokoh dan diterima secara luas di kalangan para karyawan serta setiap orang yang bekerja di dalam suatu perusahaan atau organisasi dan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap perilakunya.
2) Nilai-nilai bisa diterima secara luas
3) Budaya memberikan pesan yang konsisten kepada para karyawan mengenai apa yang ddipandang berharga dan penting
4) Para karywan sangat mengidentikkan jati diri mereka dengan budaya organisasi
5) Terdapat kaitan yang erat di antara penerimaan nilai-nilai dan perilaku para anggota organisasi
 
Budaya yang lemah :
1) Budaya yang tidak menanamkan nilai-nilai utama secara kokoh dan tidak bisa diterima secara luas di kalangan para karyawan serta setiap orang yang bekerja di dalam suatu perusahaan atau organisas sehingga tidak memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap perilakunya.
2) Nilai-nilai hanya dianut oleh segolongan orang saja di dalam organisasi – biasanya kalangan manajemen puncak
3) Budaya memberikan pesan yang salng bertolak blakang mengenai apa yang di pandang berharga dan penting
4) Para karyawan tidak begitu peduli dengan identitas budaya organisasi merreka
5) Tidak ada kaitan yang kuat di antara perilaku para anggota organisasi
 
D. DAMPAK BUDAYA ORGANISASI PADA MASYARAKAT
Budaya organisasi memiliki manfaat yang sangat strategis dalam sebuah organisasi ataupun Masyarakat. Budaya organisasi yang baik dan mapan akan berdampak sangat positif terhadap kehidupan sebuah organisasi. Bahkan tidak hanya sekedar bermanfaat secara materiil namun juga memiliki dampak spiritual dan kebarokahan.
 
E. FAKTOR PENENTU SEBUAH BUDAYA ORGANISASI
Suatu organisasi harus memiliki kesepakatan yang cukup mantap antara para anggotanya tentang apa yang dianggap Penting, Panas, Perlu dan Seruu tentang bagaimana perilaku Organisasi yang baik , dan tentang apa yang dibutuhkan untuk maju . tidak hanya itu agar suatu budaya organisasi tidak lemah maka organisasi tersebut harus bisa memperlihatkan suatu hubungan yang baik dengan kinerja organisasi . sehingga nilai nilai pokok organisasi dapat dipahami scara jelas dan diterima secara luas.
 
F. DAFTAR PUSTAKA
- hxxp://fikriputrahasan.wordpress.com/2012/12/11/konsep-budaya-organisasi-secara-islami/
- hxxp://blog.ub.ac.id/gitafebrila/2012/10/22/berdiskusi-tentang-budaya-dan-lingkungan-organisasi/
- hxxp://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_organisasi#Karakteristik_budaya_organisasi
- hxxp://mpikelasb.blogspot.com/2010/01/makalah-pengaruh-budaya-terhadap.html 



















PERILAKU ORGANSASI
DAN
KEPEMIMPINAN
Budaya Organisasi
clip_image001
Disusun Oleh :
Nur Mazidah
(122010300**)
 
Sekian share saya tentang BUDAYA ORGANISASI. semoga bisa menambah referensi anda dalam mengerjakan tugas seperti ini. Terima kasih sudah mampir.

Saturday, 27 April 2013

PLANNING, DATA ACCUMULATION, AND REPORTING BY RESPONSIBILITY ACCOUNTING

PLANNING, DATA ACCUMULATION, AND REPORTING BY RESPONSIBILITY ACCOUNTING - kerozzi akan menjelaskan beberapa materi lanjutan dari Konflik dan Negoisasi : POK, Setelah struktur network pertanggungjawaban ditetapkan maka dilakukan perencanaan, akumulasi data dan pelaporan. Elemen cost dan revenue keduanya ada dalam anggaran dan dalam akumulasi hasil actual.

Responsibility Budget


Karakteristik dari anggaran pertanggungjawaban adalah tujuan kinerja pusat pertanggungjawaban. Untuk mengontrol cost dan revenue. Proses anggaran yang efektif dimulai dari level yang paling bawah dalam organisasi untuk membandingkan antara anggaran yang diestimasikan yakni semua biaya yang diestimasi dengan semua biaya yang dikontrolnya. Untuk otoritas yang lebih tinggi mereview estimasi, cooperative dan memodifikasi bila diperlukan, sampai pada akhirnya mengkombinasikan semua anggaran untuk level top manajemen.

Data Accumulation


Akumulasi data merupakan fasilitas perbandingan secara periodik dari berbagai macam rencana anggaran. Akumulasi dari aktual income dan item expense sangat perlu untuk network pertanggungjawaban.

Responsibility Reporting


Hasil akhir dari sistem akuntansi pertanggungjawaban adalah pelaporan pertanggungjawaban secara periodik atau laporan kinerja. Untuk efisiensi laporan hendaknya manajer pertanggungjawaban menerima hanya satu laporan yang sifatnya detail ada pada level tingkat paling bawah yang diterbitkan pertama lalu yang dilaporkan pada level yang lebih tinggi. Dan hasil yang dilaporkan pada level yang lebih tinggi isinya semakin ringkas.

Selanjutnya Mulyadi, menjelaskan bahwa prosedur penyusunan pelaporan pertanggungjawaban adalah sebagai berikut :

1. Tiap-tiap pusat pertanggungjawaban setiap periodenya (bulan/triwulan) menyusun laporan atas biaya yang terjadi dibagiannya. Biaya yang dilaporkan oleh tiap-tiap pusat pertanggungjawaban adalah biaya yang sesungguhnya terjadi (actual cost).

2. Laporan diatas, diserahkan kepada penyusun laporan perusahaan keseluruhan (biasanya departemen/staff controller/bagian akuntansi).

3. Bagian penyusunan laporan tersebut mengolah data-data yang berasal dari laporan tiap-tiap pusat pertanggungjawaban kemudian membandingkan antara anggaran yang tersedia dan biaya yang sesungguhnya terjadi.

4. Terakhir, controller atau pengawas intern mengirimkan laporan pertanggungjawaban tersebut ke masing-masing pusat pertanggungjawaban yang dinilai dan kepada atasan dari pusat pertanggungajawaban tersebut.

BEHAVIOR ASSUMPTION OF RESPONSIBILITY ACCOUNTING


Rencana pertanggungjawaban, akumulasi data, dan sistem pelaporan semuanya berdasarkan pada asumsi operasi dan perilaku manusia, termasuk :

1. Management by exception (MBE) yaitu adanya kecukupan kontrol operasi yang efektif.

2. Management by objective (MBO) bahwa hasil berdasarkan anggaran, standar cost, tujuan organisasi, dan mencapai hasil berdasarkan rencana kerja.

3. Manajer dan bawahan menerima pertanggungjawaban dan akuntabilitas yang ditetapkan berdasarkan hirarki organisasi.

4. Sistem akuntansi pertanggungjawaban lebih kepada kooperasi dibanding persaingan.

Management By Exception (MBE)


MBE sangat efektif untuk mengatur dan mengontrol aktivitas organisasi. Karakteristik laporan periodik dari akuntansi pertanggungjawaban yang ideal adalah menggambarkan manajemen dalam area deviasi dari aturan yang telah ditentukan dan juga menentukan tindakan perbaikan perilaku. Untuk meralat dari persepsi dari laporan selisih, perusahaan seharusnya menyediakan sistem reward yang cukup atas pencapaian hasil dengan kinerja yang sukses.

Management By Objective (MBO)


Dalam akuntansi pertanggungjawaban, manajemen mengontrol dirinya sendiri. Disini orang-orang melakukan tugasnya sendiri sebab percaya bahwa mereka mampu mengarahkan sendiri dalam pekerjaan mereka. Akuntansi pertanggungjawaban menyediakan kerangka yang ideal untuk memformulasikan tujuan secara detail. Untuk mendapatkan motivasi dan komunikasi dari MBO dan akuntansi pertanggungjawaban, kondisi lingkungan yang baik.

Coincidence Between Responsibility Network And Organizational Structure


Akuntansi pertanggungjawaban berasumsi bahwa kendali organisatoris ditingkatkan dengan menciptakan suatu jaringan dari tanggungjawab memusat yang bersamaan dengan struktur organisasi formal.

Top manajemen memberikan otoritas kepada manajer dibawahnya berdasarkan hirarki organisasi yang menugaskan otoritas dan tanggungjawab untuk tugas-tugas spesifik. Ketika otoritas ditugaskan kepada para manajer, mereka mempunyai wewenang untuk bertindak secara resmi untuk mempengaruhi bawahan mereka.

Acceptance of Responsibility


Unsur yang terpenting dalam keberhasilan penerapan sistem akuntansi pertanggungjawaban adalah manajer pusat pertanggungjawaban menerima dan melaksanakan tanggungjawab dan tugas yang diberikan kepadanya. Untuk itu Para manajer hendaknya diberikan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dan pandangan mereka sendiri tanpa adanya rasa takut.

Capability of Inducing Cooperation


Akuntansi pertanggungjawaban mampu meningkatkan kerjasama organisasi yang memperlihatkan para manajer bekerja untuk mencapai tujuan bersama. Akuntansi pertanggungjawaban juga menunjukan tingkat loyalitas mereka, kemampuan mereka dalam membuat keputusan di dalam kerangka tanggungjawab yang didelegasikan kepada mereka. Mereka merasa menjadi bagian penting dalam organisasi sehingga mereka merasa dihargai dan akan bersama-sama mempunyai keinginan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Mereka merasa menjadi sesuatu hal yang penting, dan tentu saja mereka akan berpikir bahwa jika terjadi kegagalan tentulah akan mempengaruhi masa depan.

Kesimpulan


Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pencapaian tujuan organisasi sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia dalam Organisasi. Ketika organisasi menjadi bertambah besar, garis pertanggungjawaban menjadi lebih besar. Struktur ini, yang mengandalkan tim kerja, konsisten dengan desentralisasi. Oleh karena itu penerapan metode-metode dan teknik-teknik akuntansi manajemen harus mempertimbangkan perilaku manusia.

2. Secara umum akuntansi pertanggungjawaban dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang meliputi perencanaan, pengukuran dan evaluasi informatika atau laporan akuntansi dalam suatu organisasi yang terdiri dari beberapa pusat pertanggungjawaban dimana tiap-tiap pusat tanggungjawab dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggungjawab atas aktivitas yang dipimpinnya.

Perbedaan mendasar akuntansi pertanggungjawaban dan akuntansi konvensional adalah terletak pada perencanaan, klasifikasi, dan pengumpulan data. Akuntansi konvensional mengklasifikasikan data berdasarkan pada sifat atau fungsi dari biaya, sedangkan akuntansi pertanggungjawaban lebih menitikberatkan pada pertanggungjawaban atas kejadian dan control secara individual. Untuk tujuan pengendalian biaya, struktur organisasi diharapkan mampu menjelaskan hubungan pusat-pusat pertanggungjawaban secara individu, Jaringan organisasi, atau pertanggungjawaban secara ideal mampu menggambarkan bagaimana masing-masing fungsi mampu mengelola input untuk menghasilkan output secara efisien.

3. Setelah struktur network dari pertanggungjawaban ditetapkan maka dilakukan perencanaan, akumulasi data dan pelaporan. Elemen cost dan revenue keduanya ada dalam anggaran dan dalam akumulasi hasil aktual. Langkah ini meliputi penentuan responsibility budget, akumulasi data, dan pelaporan pertanggungjawaban oleh pusat-pusat pertanggungjawaban.

4. Rencana pertanggungjawaban, akumulasi data, dan sistem pelaporan semuanya berdasarkan pada asumsi operasi dan perilaku manusia, yakni :

a. Management by exception (MBE) yaitu adanya kecukupan kontrol operasi yang efektif.

b. Management by objective (MBO) bahwa hasil berdasarkan anggaran, standar cost, tujuan organisasi, dan mencapai hasil berdasarkan rencana kerja.

c. Manajer dan bawahan menerima pertanggungjawaban dan akuntabilitas yang ditetapkan berdasarkan hirarki organisasi.
 
d. Sistem akuntansi pertanggungjawaban lebih kepada kooperasi dibanding persaingan.

Begitulah pembahasan PLANNING, DATA ACCUMULATION, AND REPORTING BY RESPONSIBILITY ACCOUNTING pada kesempatan ini. semoga bermanfaat ya.

Friday, 5 April 2013

Konflik dan Negoisasi : POK

pembahasan Konflik dan Negoisasi : POK meliputi definisi konflik, pengertian konflik, perbedaan konflik tradisional, sdm dan interaksi, perbandingan konflik tugas, hubungan dan proses konflik serta kesimpulan proses konflik. artikel ini Kerozzi tulis sendiri untuk tugas PERILAKU ORGANSASI DAN KEPEMIMPINAN (POK) pada semester 1
 
Umsida - Konflik dan Negoisasi POK
Disusun Oleh :
Nur Mazidah
(12201030006)
 

A. DEFINISI KONFLIK

Konflik berasal dari kata kerja Latin, configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
 

Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli.

1. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
2. Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
3. Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
4. Menurut Muchlas, (1999)Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi. Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
5. Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
6. Menurut Robbin (1993), Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif.
7. Menurut Pace & Faules (1994:249), Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami.
8. Menurut Folger & Poole (1984), Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi.
9. Menurut Myers (1982:234-237), Kreps (1986:185), Stewart (1993:341), bahwa konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat.
10. Menurut Devito (1995:381), Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda
 

B. PERBEDAAN ANTARA KONFLIK TRADISIONAL, KONFLIK SDM DAN KONFLIK INTERAKSI

Robbin (1996: 431) mengatakan konflik dalam organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks, yaitu pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik.
 
Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian, antara lain:
1. Pandangan tradisional (The Traditional View).
Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Konflik ini merupakan suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan, keterbukaan di antara orang – orang, dan kegagalaan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan.
2. Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View)
Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota. Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konflik harus dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi.
3. Pandangan interaksionis (The Interactionist View).
Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis – diri, dan kreatif.
 

C. PERBANDINGAN KONFLIK TUGAS, KONFLIK HUBUNGAN DAN PROSES KONFLIK

Gibson dkk (2004: 252-253) menjelaskan adanya tiga hal yang merangsang konflik dalam hubungan antar anggota dalam suatu kelompok, yakni:
1. Konflik tugas,
2. Konflik hubungan, dan
3. Proses Konflik.
Tugas sering kali mengundang konflik karena masing-masing anggota memiliki perbedaan sudut pandang tentang tugas kelompok yang harus diselesaikan. Adapun konflik menyangkut hubungan merupakan pengembangan atas konflik tugas, karena pertentangan sudah masuk ke ranah pribadi suatu pihak atau lebih. Untuk konflik yang disebabkan oleh proses merupakan masalah yang paling sering dihadapi para anggota dalam suatu kelompok. Konflik ini berpangkal dari perbedaan sudut pandang bagaimana menyelesaikan tugas yang diamanatkan lembaga pada sebuah kelompok. seperti Gerakan Konsumen cerdas? mengapa tidak? yang saya sampaikan dahulu
 

D. KESIMPULAN PROSES KONFLIK

Konflik dan Negoisasi : POK

Tahap I: Oposisi atau ketidakcocokan potensial
Tahap pertama ini adalah munculnya kondisi-kondisi yang menciptakan peluang bagi pecahnya konflik. Kondisi-kondisi tersebut tidak harus mengarah langsung pada konflik, tetapi salah satunya diperlukan jika konflik akan muncul. Secara sederhana, kondisi-kondisi tersebut dapat dipadatkan ke dalam tiga kategori umum, yaitu:
a. Komunikasi
Sebuah ulasan mengenai penelitian menunjukkan bahwa konotasi kata yang menimbulkan makna yang berbeda, pertukaran informasi yang tidak memadai, dan kegaduhan pada saluran komunikasi merupakan hambatan komunikasi dan kondisi potensial pendahulu yang menimbulkan konflik. Penelitian menunjukkan bahwa potensi konflik meningkat ketika terjadi terlalu sedikit atau terlalu banyak informasi. Jelas, meningkatnya komunikasi menjadi fungsional sampai pada suatu titik, dan diatasnya dengan terlalu banyak komunikasi, meningkat pula potensi konflik. seperti saat kita terkena jerawat. hehehe. lakukan saja dengan meredakan konflik jerawat dengan cara herbal mengatasi jerawat dan bekasnya
b. Struktur
Istilah struktur digunakan dalam konteks ini untuk mencakup variabel-variabel seperti ukuran, kadar spesialisasi dalam tugas-tugas yang diberikan kepada anggota kelompok, keserasian antara anggota dan tujuan, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan kadar ketergantungan antar kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran dan spesialisasi bertindak sebagai daya yang merangsang konflik. Semakin besar kelompok dan semakin terspesialisasi kegiatan-kegiatannya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik. Semakin besar ambiguitas dalam mendefinisikan secara tepat dimana letak tanggung jawab atas tindakan, semakin besar potensi munculnya konflik.
c. Variabel-variabel Pribadi
Kategori ini meliputi kepribadian, emosi, dan nilai-nilai. Bukti menunjukkan bahwa jenis kepribadian tertentu memiliki potensi memunculkan konflik. Emosi juga dapat menyebabkan konflik. Nilai yang berbeda-beda yang dianut tiap-tiap anggota dapat menjelaskan munculnya konflik
 
Tahap II: Kognisi dan Personalisasi
Kondisi anteseden hanya dapat mendorong konflik bila ada persepsi dan rasa yang disadari sesosok individu atau sebuah kelompok. Jadi, bila sebuah hal tidak disadari oleh satu pihak sebagai suatu hal yang dapat memicu konflik, maka konflik tidak muncul. Begitu pula jika suatu pihak tidak terlibat secara emosional pada kondisi yang sebetulnya bisa tumbuh konflik (seperti merasa tegang, cemas, frustrasi atau bermusuhan), maka konflik juga tidak terjadi. Dengan kata lain kondisi potensial untuk terciptanya oposisi atau pertentangan belum tentu menciptakan konflik karena bergantung pada persepsi serta perasaan subjek.
 
Tahap III: Maksud
Maksud diterjemahkan sebagai keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu. Maksud tidak selalu diterjemahkan sama dengan perilaku, sehingga perlu untuk memisahkan antara keduanya. Sebagai contoh seseorang yang bermaksud tidak ,mau bekejasama bisa saja berperilaku seolah-olah kolaboratif, dengan demikian interpretasi perilaku dapat berbeda dengan maksud sesungguhnya. Untuk penanganan konflik, maksud-maksud yang diindentifikasi termasuk diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Bersaing: hasrat untuk memuaskan kepentingan sendiri dan tidak peduli dampaknya terhadap pihak-pihak lain pada sebuah konflik
2. Berkolaborasi: Suatu situasi yang didalamnya terdapat pihak-pihak yang saling berkeinginan untuk memuaskan sepenuhnya kepentingan dari semua pihak
3. Menghindar: hasrat untuk menarik diri dari suatu konflik, atau keinginan untuk menekan konflik yang ada
4. Mengakomodasi: kesediaan dari satu pihak untuk meletakkan kepentingan lawannya di atas kepentingannya
5. Berkompromi: Suatu situasi yang didalamnya terdapat pihak yang bersedia mengkorbankan atau melepaskan sesuatu.
Selama terjadinya konflik, maksud yang dirasakan atau ditujukan salah satu pihak belum tentu sama, hal ini disebabkan oleh konseptualisasi ulang atau reaksi emosional yang dapat berubah-ubah. Meskipun maksud yang dimiliki seseorang bisa berubah-ubah dalam menangani konflik, namun hasil penelitian menemukan adanya kecenderungan preferensi seseorang terhadap salah satu dari lima tipe maksud tersebut. Kecenderungan ini berkait erat dengan kombinasi antara karakteristik intelektual dan kepribadian.
Selain menurut Gibson dkk (1996: 130), masih banyak lagi pendapat para pakar lainnya mengenai maksud atau cara penanganan konflik. Penjelasan lebih terurai akan dipaparkan pada topik Pengelolaan Konflik.
 
Tahap 4: Perilaku
Tahap perilaku meliputi pernyataan, aksi dan reaksi yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkonflik. Perilaku konflik ini biasanya merupakan upaya kasat mata untuk mengoperasikan maksud dari masing-masing pihak. Tetapi perilaku ini memiliki kualitas stimulus yang berbeda dari maksud.
Jika konflik bersifat disfungsional, maka perlu dilakukan berbagai teknik penting untuk meredakannya. Para manajer mengendalikan tingkat konflik dengan manajemen konflik (conflict management), yaitu pemanfaatan teknik-teknik resolusi dan dorongan (stimulasi) untuk mencapai tingkat konflik yang diinginkan
 
Tahap 5: Hasil / Akibat
Jalinan aksi-reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik menghasilkan konsekuensi. Akibat atau konsekuensi itu bisa bersifat fungsional, dalam arti konflik tersebut menghasilkan kinerja kelompok, atau juga bisa bersifat disfungsional karena justru menghambat kinerja kelompok.
a. Akibat fungsional
Meningkatnya keragaman kultur dari anggota dapat memberikan manfaat lebih besar bagi organisasi. Penelitian memperlihatkan bahwa heterogenitas antaranggota kelompok dan organisasi dapat meningkatkan kreativitas, memperbaiki kualitas keputusandan memfasilitasi perubahan dengan cara meningkatkan fleksibilitas anggota.
b. Akibat disfungsional
Pertengkaran yang tak terkendali menumbuhkan rasa tidak senang, yang menyebabkan ikatan bersama renggang, dan pada akhirnya menuntun pada kehancuran kelompok. Diantara konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan tersebut, terdapat lambannya komunikasi, menurunnya kekompakan kelompok, dan subordinasi tujuan kelompok oleh dominasi perselisihan antar anggota.
c. Menciptakan konflik fungsional
Salah satu cara organisasi menciptakan konflik fungsional adalah dengan memberi penghargaan kepada orang yang berbeda pendapat dan menghukum mereka yang suka menghindari konflik.
 
E. DAFTAR PUSTAKA
- http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik
- http://ikaribajuwanita.files.wordpress.com
- http://queenaya-84.blogspot.com
- http://staff.uny.ac.id

untuk melihat lebih jauh tentang tugas dan sharing lainnya, silakan lihat daftar isi kerozzi ya, dapatkan informasi yang lain dan bermanfaat disana. Sekian tugas tentang Konflik dan Negoisasi : POK yang dapat saya sampaikan dan bagikan kepada teman – teman semua. semoga bisa menjadi referensi tambahan dalam mengerjakan tugas kuliah Perilaku Organisasi dan Kepemimpinan. Terima kasih sudah menyimak.

















































































Monday, 18 March 2013

Pengertian Emosi dan Suasana Hati

Pengertian Emosi dan Suasana Hati - Kumpulan Dasar Emosi - Aspek Emosi - Suasana Hati sebagai Afek Positif dan Negatif - sumber Emosi dan Suasana Hati - batasan Eksternal pada Emosi - Kerja Emosional - Teori Peristiwa Afektif - Kecerdasan Emosional - kasus yang Mendukung dan menentang Kecerdasan Emosional - Aplikasi Perilaku Organisasi Terhadap Emosi Dan Suasana Hati merupakan materi yang akan Kerozzi Share pada kesempatan kali ini setelah beberapa minggu yang lalu juga post tugas AK 1 Perilaku Produksi, Untung, Impas, Rugi, Kardinal, Ordinal
 
Pengertian Emosi dan Suasana Hati
A. Apakah Afek, Emosi, dan Suasana Hati?
Afek adalah sebuah istilah yang mencakup beragam perasaan yang dialami seseorang. Afek merupakan sebuah konsep yang meliputi baik emosi maupun suasana hati. Emosi adalah perasaan-perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Sedangkan Suasana Hati adalah perasaan-perasaan yang cenderung kurang intens dibanding emosi dan seringkali tanpa rangsangan kontektual.
 
1. Kumpulan Dasar Emosi
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membatasi dan mendefinisikan sekian banyak emosi ke dalam satu kelompok fundamental atau dasar dari emosi. Rene Descartes menyebutkan enam “nafsu sederhana dan primitive”, yaitu rasa kagum, cinta, benci, hasrat, gembira, dan sedih. Namun beberapa peneliti berargumen bahwa tidak masuk akal untuk memikirkan emosi-emosi dasar karna emosi lain yang jarang kita alami juga dapat berpengaruh sangat kuat pada kita.
Dalam penelitian kontemporer, psikolog telah mencoba mengidentifikasi emosi-emosi dasar dengan mempelajari berbagai ekspresi wajah. Salah satu masalah dari pendekatan ini adalah, beberapa emosi terlalu kompleks untuk diekspresikan melalui wajah. Sedikitb kemungkinan para psikolog atau filsuf akan bisa sepenuhnya sependapat. Tetapi cukup banyak peneliti yang masih setuju pada enam emosi dasar universal, bahkan mengurutkannya dalam sebuah rangkaian kesatuan, yaitu bahagia, terkejut, takut, sedih, marah, benci. Semakin dekat dua emosi terhadap emosi lainnya dalam rangkaian ini, semakin besar kemungkinan dapat dibedakan. Selain itu, seperti yang akan kita lihat lebih lanjut, faktir-faktor kultural juga dapat memengaruhi interpretasi.
 
2. Beberapa Aspek Emosi
a. Biologi Emosi
Semua emosi berasal dari sistem limbik otak. Orang-orang cenderung merasa paling bahagia ketika sistem limbik mereka secara relatif tidak aktif. Ketika sistem limbik ‘memanas’, emosi-emosi negatif seperti rasa marah dan bersalah mendominasi emosi-emosi positif seperti kegembiraan dan kebahagiaan. Secara keseluruhan, sistem limbik memberikan sebuah lensa dimana anda dapat menginterpretasikan kejadian-kejadian. Ketika sistem itu aktif, anda melihat hal-hal dalam cahaya negatif. Namun ketika tidak aktif, anda menginterpretasikan informasi secara lebih positif.
 
b. Intensitas
Setiap orang memberika respon yang berbeda-beda terhadap rangsangan pemicu emosi yang sama. Setiap orang memiliki kemampuan bawaan yang bervariasi untuk mengekspresikan intensitas emosional. Ada orang yang hampir tidak pernah menunjukkan perasaan mereka, jarang marah, dan tidak pernah menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, ada orang yang sepertinya berada dalam sebuah roller coaster emosional. Ketika bahagia, akan luar biasa gembira. Ketika bersedih, akan mengalami depresi mendalam. Berbagai pekerjaan menuntut emosi yang berbeda.
c. Frekuensi dan Durasi
 
Suksesnya pemenuhan tuntutan emosional seorang karyawan dari suatu pekerjaan tidak hanya bergantung pada emosi-emosi yang harus ditampilkan dan intensitasnya, tetapi juga pada seberapa sering dan lamanya mereka berusaha menampilkannya.
 
d. Emosi Membuat Kita Irasional
Astronom terkenal Carl Segan pernah menulis, “Emosi yang kuat kemungkinan besar dapat membodohi diri kita sendiri.” Pengamatan ini menyatakan bahwa rasionalitas dan emosi saling bertentangan. Jika menampilkan emosi, kemungkinan anda akan bertindak sacara irasional. Pengarang Lois Frankel menyarankan agar para wanita menghindari bersikap emosional di tempat kerja, karna hal itu dapat memengaruhi penilaian orang lain terhadap kompetensi mereka.
 
e. Fungsi Emosi
Dalam The Expression of the Emotions in Man and Animals, Darwin menyatakan bahwa emosi berkembang seiring waktu untuk membantu manusia memecahkan masalah. Emosi sangatlah berguna karna memotivasi orang untuk terlibat dalam tindakan-tindakan penting dalam bertahan hidup (Mis: mengumpulkan makanan, mencari tempat berlindung, memilih pasangan, dll).
Teori Darwin tersebut didukung oleh para peneliti yang berfokus pada psikologi evolusioner. Bidang penelitian ini mengatakan bahwa kita harus mengalami emosi, baik emosi positif maupun negatif, karna hal ini berguna terhadap suatu tujuan. Meski kita cenderung menganggap kemarahan sebagai hal buruk, sebenarnya kemarahan dapat membantu melindungi hak-hak kita yang telah dilanggar menurut perasaan kita. Contohnya, ketika seseorang marah karena merasa terganggu oleh rekan kerjanya, sebenarnya ia memberikan peringatan kepada orang-orang disekitarnya agar tidak melakukan hal yang sama yang membuatnya marah.
 
3. Suasana Hati sebagai Afek Positif dan Negatif
Salah satu cara mengklasifikasikan emosi adalah berdasarkan apakah hal itu positif atau negatif. Bila emosi dikategorikan menjadi dua kelompok positif dan negatif, maka akan menjadi suasana hati. Sebab sekarang ini, emosi dipandang lebih umum. Perhatikan Srtuktur Suasana Hati. Jadi kita bisa menganggap afek positif sebagai sebuah dimensi suasana hati yang terdiri atas emosi-emosi positif seperti kesenangan, ketenangan diri, dan kegembiraan pada ujung tinggi dan kebosanan, kemalasan, dan kelelahan pada ujung rendah. Afek negatif adalah sebuah dimensi suasana hati yang terdiri dari keggupan, stres, dan kegelisahan pada ujung tinggi, serta relaksasi, ketenangan, dan keseimbangan pada ujung rendah.
 
4. Sumber-sumber Emosi dan Suasana Hati
a. Kepribadian
Kepribadian memberi kecenderungan kepada orang untuk mengalami suasana hati dan emosi tertentu. Beberapa orang mempunyai kecenderungan untuk mengalami emosi apapun secara lebih intens. Orang-orang seperti itu memiliki intensitas efek yang tinggi. Intensitas Efek yaitu perbedaan individual dalam hal kekuatan dimana individu-individu mengalami emosi mereka. Jadi, emosi-emosi berbeda dalam dalam intensitas mereka, tetapi juga berbeda dalam bagaimana mereka berkecenderungan untuk mengalami emosi secara intens.
 
b. Hari dalam Seminggu dan Waktu dalam Sehari
Sebagian besar orang berada di tempat kerja atau sekolah pada hari Senin-Jum’at. Dengan demikian, sebagian besar orang akan memanfaatkan akhir minggu untuk bersantai dan bersenang-senang. Berarti bahwa orang-orang berada pada suasana hati terbaik di akhir minggu. Seperti yang ditunjukkan pada gambar, orang-orang cenderung berada dalam suasana hati terburuk (afek negatif tertinggi dan afek positif terendah) di awal minggu dan suasana hati terbaik (afek positif tertinggi dan afek negatif terendah) di akhir minggu.
 
c. Cuaca
Banyak orang percaya bahwa suasana hati mereka berhubungan dengan cuaca. Tetapi bukti menunjukkan bahwa cuaca memiliki sedikit pengaruh terhadap suasana hati. Korelasi ilusif menjelaskan mengapa orang-orang cenderung berpikir bahwa cuaca yang menyenangkan meningkatkan suasana hati mereka. Korelasi ilusif merupakan kecenderungan orang-orang untuk mengasosiasikan dua kejadian yang pada kenyataannya tidak memiliki sebuah korelasi.
 
d. Stres
Stress memengaruhi emosi dan suasana hati. Di tempat kerja, kejadian sehari-hari yang menimbulkan stress, juga pengaruh dari stress yang tertumpuk dari waktu ke waktu, secara negative memengaruhi suasana hati karyawan. Tingkat stress dan ketegangan yang menumpuk di tempat kerja dapat memperburuk suasana hati karyawan, sehingga menyebabkan mereka mengalami lebih banyak emosi negatif. Walaupun kadang kita mencoba mengatasi stress, namun sebenarnya stress mulai memengaruhi suasana hati kita.
 
e. Aktivitas Sosial
Penelitian mengungkapkan bahwa aktivitas sosial yang bersifat fisik, informal, atau Epicurean (makan bersama orang lain) lebih diasosiasikan secara kuat dengan peningkatan suasana yang positif dibandingkan kejadian-kejadian formal.
 
f. Tidur
Kualitas tidur mempengaruhi suasana hati. Satu dari alasan mengapa tidur yang lebih sedikit, atau kualitas tidur yang buruk, menempatkan orang dalam suasana hati yang buruk karena hal tersebut memperburuk pengambilan keputusan dan membuatnya sulit untuk mengontrol emosi.
 
g. Olahraga
Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa olahraga meningkatkan suasana hati positif, tetapi tampaknya berpengaruh kuat terhadap mereka yang mengalami depresi.
 
h. Usia
Suatu penelitian terhadap orang-orang yang berusia 18 hingga 94 tahun mengungkapkan bahwa emosi negatif tampaknya semakin jarang terjadi seiring bertambahnya usia seseorang. Bagi seseorang yang lebih tua, suasana hati positif yang tinggi bertahan lebih lama dan suasana hati yang buruk menghilang dengan lebih cepat.
 
i. Gender
Sudah menjadi keyakina umum bahwa wanita lebih menggunakan perasaan mereka dibandingkan pria—bahwa mereka bereaksi lebih secara emosional dan mampu membaca emosi orang lain dengan lebih baik.
 
5. Batasan-batasan Eksternal pada Emosi
Setiap organisasi mendefinisikan batasan-batasan yang mengidentifikasi emosi-emosi yang dapat diterima dan sampai tingkat mana karyawan dapat mengekspresikannya. Kultur juga menetapkan batasan-batasan. Dalam bagian ini, kita melihat pengaruh organisasi dan kultural pada emosi.
 
a. Pengaruh-pengaruh Organisasi
Pada umumnya iklim dalam suatu organisasi yang dikelola dengan baik adalah iklim yang berusaha untuk bebas dari emosi.
 
b. Pengaruh-pengaruh Kultural
Secara umum, lebih mudah bagi orang untuk mengenali emosi secara lebih akurat dalam kultur mereka sendiri daripada kultur-kultur lain.
 
B. Kerja Emosional
Kerja emosional adalah ekspresi seorang karyawan dari emosi-emosi yang diinginkan secara organisasional selama transaksi antarpersonal di tempat kerja.
 
1. Emosi yang Dirasakan versus Emosi yang Ditampilkan
- Emosi yang dirasakan adalah emosi sebenarnya dari seorang individu.
- Emosi yang ditampilkan adalah emosi-emosi yang diharuskan secara organisasional dan dianggap sesuai dalam sebuah pekerjaan tertentu.
- Berpura-pura dipermukaan adalah menyembunyikan perasaan mendalam seseorang dan menghilangkan ekspresi-ekspresi emosional sebagai respons terhadap aturan-aturan penampilan.
- Berpura-pura secara mendalam adalah berusaha mengubah perasaan mendalam seseorang berdasarkan aturan-aturan penampilan.
 
2. Apakah Pekerjaan-pekerjaan yang Menuntut secara Emosional Dibayar Lebih Tinggi?
Untuk pekerjaan-pekerjaan yang menuntut secara kognitif, tuntutan emosional yang semakin besar akan dibayar lebih baik. Tetapi untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak menuntut secara kognitif, tuntutan emosional yang semakin besar akan dibayar lebih buruk.
 
C. Teori Peristiwa Afektif
Teori peristiwa afektif (AET) adalah sebuah model yang menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa di tempat kerja menyebabkan reaksi-reaksi emosional di bagian karyawan, yang kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku di tempat kerja.
AET intinya mempunyai dua pesan penting, yaitu:
 
1. Emosi-emosi menyediakan wawasan yang berharga untuk memahami perilaku karyawan. Dalam model ini menggambarkan situasi dimana ada cek cok dan suasana gembira di tempat kerja yang dapat mempengaruhi kinerja dan kepuasan karyawan.
2. Karyawan dan manajer seharusnya tidak mengabaikan emosi dan peristiwa yang menyebabkan hal tersebut terjadi, bahkan ketika itu merupakan hal yang tidak penting, sebab suatu hal kecil dapat berubah menjadi hal besar.
 
D. Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional berarti kemampuan seseorang mendeteksi dan mengelola petunjuk-petunjuk serta informasi emosional. Individu-individu yang memiliki kecerdasan emosional akan menjadi individu yang efektif di dalam melakukan pekerjaan. Kecerdasan emosional sendiri terdiri dari lima dimensi, yaitu:
 
· Kesadaran diri artinya anda sadar atas apa yang anda lakukan ataupun rasakan.
· Manajemen diri artinya anda mempunyai kemampuan untuk mengelola emosi dan dorongan-dorongan pada diri anda sendiri.
· Motivasi diri artinya anda memiliki kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi kegagalan dan kemunduran pada diri anda akibat kehilangan motivasi.
· Empati artinya anda memiliki kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain di sekitar anda (anda tidak menjadi individu yang cuek).
· Keterampilan sosial artinya anda mempunyai kemampuan menangani emosi-emosi orang lain.
 
1. Kasus-kasus yang Mendukung Kecerdasan Emosional
a. Daya tarik intuitif
Sebagian besar orang setuju bahwa memiliki kecerdasan jalanan dan kecerdasan sosial itu bagus. Jadi individu yang mampu mendeteksi emosi individu lain, mengendalikan emosinya sendiri, dan menangani interaksi sosial dengan baik, merupakan individu yang akan bertahan lama di dalam dunia bisnis. Contohnya: para rekanan dalam sebuah perusahaan multinasional yang mempunyai nilai di atas rata-rata ukuran kecerdasan emosional menghasilkan $1,2 juta lebih banyak dalam bisnis ketimbang rekanan-rekanan lainnya.
 
b. Kecerdasan emosi meramalkan kriteria yang penting
Law dkk (2004) menyatakan bahwa kecerdasan emosi dapat meramalkan kinerja karyawan dalam sebuah pabrik rokok di Cina. Van Rooy and Viswesvaran (2004) membuktikan ada 59 penelitian mengindikasikan bahwa secara komprehensif kecerdasan emosi berhubungan secara moderat dengan kinerja pekerjaan. Berdasarkan penelitian-penelitian di atas maka memberikan bukti kuat bahwa kecerdasan emosi tingkat tinggi mempengaruhi kinerja seseorang menjadi lebih baik dalam pekerjaannya.
 
c. Kecerdasan emosi berbasis biologis
Penelitian yang dilakukan oleh Bar-On dkk (2003) menunjukkan bahwa orang-orang dengan kerusakan otak yang mengatur pemrosesan emosional memiliki nilai signifikansi yang rendah pada tes kemampuan emosi. Kemampuan emosi berbasis secara neurologi yang tidak berhubungan dengan ukuran-ukuran kecerdasan standar dan orang-orang yang menderita kerusakan neurologi tersebut memiliki nilai rendah pada kecerdasan emosi dan membuat keputusan yang lebih buruk dibandingkan orang-orang yang mampu berpikir sehat.
 
2. Kasus-kasus yang Menentang Kemampuan Emosi
a. Kecerdasan emosi merupakan konsep yang samar
Masih banyak peneliti yang tidak jelas dengan maksud konsep kecerdasan emosi. Perbedaan fokus peneliti menyebabkan sulitnya mendefinisikan kecerdasan emosi. Locke (2005) menyatakan bahwa konsep kecerdasan emosi menjadi sangat luas dan komponen-komponennya sangat beragam sehingga...hal tersebut bahkan bukan lagi merupakan sebuah konsep kecerdasan
 
b. Kecerdasan emosi tidak dapat diukur
Banyak kritik mengenai kecerdasan emosi dan menimbulkan pertanyaan tentang pengukuran kecerdasan emosi. Misalnya, terdapat satu ukuran meminta Anda untuk mengasosiasikan perasaan tertentu dengan warna tertentu, seperti warna hijau selalu membuat kita merasa sejuk, bukan merasa marah. Conte (2005) menyatakan bahwa ukuran-ukuran kecerdasan emosi sangat bervariasi dan para peneliti belum menjadikan hal ini sebagai subjek penelitian yang diteliti seperti ketika mengukur kepribadian dan kecerdasan umum.
 
c. Validitas kecerdasan emosi masih dipertanyakan
Decker (2003) menyatakan bahwa kecerdasan emosi sangat berhubungan dengan ukuran-ukuran kepribadian, khususnya stabilitas emosional. Namun belum ada cukup riset mengenai apakah kecerdasan emosi menambah wawasan melampaui ukuran-ukuran kepribadian dan kecerdasan umum dalam meramalkan kinerja pada pekerjaan.
 
E. Aplikasi-Aplikasi Perilaku Organisasi Terhadap Emosi Dan Suasana Hati
1. Seleksi
Ada satu bukti kecerdasan emosi bahwa para pemberi kerja harus mempertimbangkan kecerdasan emosi sebagai salah satu faktor dalam proses perekrutan karyawan. Sekarang ini banyak pemberi kerja menggunakan ukuran-ukuran kecerdasan emosi untuk mempekerjakan orang. Contohnya angkatan udara di USA. Ditemukan bahwa para perekrut terbaik mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi. Calon yang direkrut jika mempunyai kecerdasan emosi tinggi kemungkinan 2,6 kali lebih berhasil ketimbang yang tidak mempunyai kecerdasan emosi atau kecerdasan emosinya rendah (Spencer, dkk, 1997).
 
2. Pengambilan Keputusan
Para peneliti perilaku organisasi sampai saat ini masih berdebat mengenai peran emosi dan suasana hati negatif di dalam decision making. Alloy dan Abramsom (1979) menyatakan individu-individu yang tertekan membuat penilaian-penilaian yang lebih akurat daripada orang yang tidak tertekan. Namun, sekarang ini juga terdapat bukti bahwa orang yang tertekan akan membuat keputusan yang lebih buruk daripada orang yang tidak tertekan. Sebab orang yang tertekan akan lebih lambat dalam memproses informasi dan cenderung mempertimbangkan semua pilihan yang ada daripada pilihan yang sangat mungkin diambil (Ambady dan Gray, 2002). Emosi yang positif dapat membantu individu untuk cepat mengambil keputusan sebab mereka akan memproses informasi dengan cepat.
 
3. Kreativitas
Orang yang mempunyai emosi positif biasanya lebih kreatif karena mereka akan terstimulus dengan adanya banyak ide di otak mereka. Para supervisor harus aktif menjaga suasana hati positif karyawannya agar para karyawan lebih kreatif. George dan Zhou (2001) malah menyatakan hal yang sebaliknya. Mereka berpendapat individu yang berada dalam suasana hati positif justru mereka lebih santai dan tidak terlibat di dalam pemikiran kritis yang dibutuhkan untuk beberapa bentuk kreativitas. Pandangan tentang hal ini masih bersifat kontroversial. Tetapi agar lebih aman, kita menyimpulkan bahwa untuk banyak tugas, suasana hati positif dapat meningkatkan kreativitas.
 
4. Motivasi
Suasana hati dan emosi penting di dalam motivasi. Terdapat dua penelitian. Penelitian pertama dilakukan oleh Erez dan Isen (2002), mereka meminta dua kelompok orang (kelompok A dan B) untuk memecahkan sejumlah teka-teki kata. Kelompok A melihat video lucu, maksudnya untuk menempatkan kelompok A pada suasana hati yang positif sebelum disuruh memecahkan teka-teki. Sedangkan kelompok B tidak disuruh melihat video lucu terlebih dahulu. Maka hasilnya, kelompok A melaporkan ekspektasi yang lebih tinggi dalam memecahkan teka-teki tersebut, berusaha lebih keras dan hasilnya mereka dapat memecahkan teka-teki lebih banyak daripada kelompok B.
 
5. Kepemimpinan
Ketika para pemimpin yang efektif menginginkan perubahan-perubahan yang nyata maka mereka mengandalkan “pembangkitan, pembangunan, dan mobilisasi emosi.” (Ashforth dan Humphrey). Dengan membangkitkan emosi dan menghubungkannya pada visi yang menarik, para pemimpin meningkatkan kemungkinan bahwa para manajer dan karyawan akan menerima perubahan.
 
6. Konflik Antarpersonal
Konflik antarpersonal adalah konflik yang timbul di antara rekan kerja. Sebenarnya keberhasilan seorang manajer di saat mencoba menyelesaikan konflik ditentukan oleh kemampuan untuk mengenali elemen emosional dalam konflik dan meminta pihak-pihak yang terlibat untuk mengendalikan emosi mereka. Ketika elemen-elemen tersebut diabaikan oleh manajer dan hanya berfokus pada hal-hal yang bersifat rasional, kemungkinan besar manajer tidak dapat menyelesaikan konflik antarpersonal.
 
7. Negosiasi
Van kleef dkk (2004) menunjukkan bahwa negosiator yang pura-pura marah mempunyai keunggulan terhadap lawan mereka. WHY? Sebab ketika negosiator menunjukkan kemarahan maka lawan akan menyimpulkan bahwa negosiator tersebut telah menyerahkan semua yang ia dapat dan dengan demikian lawan menyerah. Menunjukkan emosi negatif bisa saja berdampak efektif tetapi hal ini membuat penampilan Anda merugikan negosiasi-negosiasi Anda selanjutnya. Shiv dkk (2005) mengungkapkan bahwa orang-orang yang menderita kerusakan pada pusat emosional dari otak mereka dapat menjadi negosiator terbaik sebab mereka mungkin tidak akan melakukan koreksi terlalu banyak terhadap hasil-hasil negatif.
 
8. Pelayanan Pelanggan
Keadaan emosional seorang pekerja mempengaruhi pelayanan terhadap pelanggan, biasanya berpengaruh terhadap tingkat pengulangan bisnis dan tingkat kepuasan pelanggan (Tsai and Huang, 2002). Pemberian pelayanan yang baik oleh karyawan, membuat karyawan menuntut banyak hal karena mereka sering berada dalam kondisi disonansi emosional. Terkadang emosi karyawan dapat berpindah ke pelanggan, hal ini disebut penularan emosional. Contoh penularan emosi adalah sebagai berikut ketika seseorang tertawa dan tersenyum pada Anda, Anda mulai meniru perilaku orang tersebut. Baik penularan emosi positif ataupun negatif tetap akan berpengaruh terhadap pelanggan.
 
9. Sikap Kerja
Ada ungkapan “jangan membawa masalah di tempat kerja ketika berada di rumah atau sebaliknya”. Tetapi kenyataannya ungkapan tersebut sangat sulit untuk dilakukan. Orang-orang yang mempunyai suasana buruk di tempat kerja biasanya tetap membawanya ketika mereka berada di rumah. Mereka bisa jadi marah terhadap anggota keluarga di rumah walaupun anggota keluarga tersebut tidak memiliki masalah. Riset yang dilakukan oleh Rau tahun 2004 membuktikan bahwa orang-orang yang mengalami hari penuh pressure di tempat kerja cenderung kesulitan untuk rileks setelah mereka pulang ke rumah. Jadi meskipun sulit dilakukan untuk tidak pernah membawa pekerjaan Anda pulang ke rumah, nampaknya bagi sebagian besar orang sebuah suasana hati negatif sebagai hasil dari suatu hari buruk di tempat kerja tidak terbawa ke hari berikutnya.
 
10. Perilaku Menyimpang di Tempat Kerja
Emosi-emosi yang negatif dapat berdampak terhadap perilaku menyimpang di tempat kerja. Contohnya adalah iri hati, ketika kita iri karena teman kerja kita dipromosikan untuk menjadi direktur utama sedangkan kita tidak. Hal ini biasanya berujung pada perilaku menyimpang, bisa saja kemudian kita menyebarkan fitnah kepada teman kita yang hendak dipromosikan menjadi direktur utama. Lee and Allen (2002) menyatakan bahwa orang-orang yang merasakan emosi negatif, khususnya mereka yang merasa marah akan lebih mungkin terlibat dalam perilaku menyimpang di tempat kerja daripada orang-orang yang merasakan emosi positif.
 
11. Bagaimana Para Manajer Mempengaruhi Suasana Hati
Para manajer dapat menggunakan humor dan memberikan karyawan penghargaan kecil sebagai apresiasi terhadap pekerjaan yang sudah dilakukan dengan baik. Hasil riset yang dilakukan oleh Cote and Saavedra (2005) mengindikasikan bahwa ketika para pemimpin berada dalam suasana hati yang baik, anggota kelompok menjadi lebih positif dan mereka akan lebih bekerja sama
 
Sekian tugas Pengertian Emosi dan Suasana Hati yang bisa saya bagikan. semoga bermanfaat dan menambah referensi anda. Terima kasih sudah berkunjung.




















































































































































Monday, 11 March 2013

Perilaku Produksi, Untung, Impas, Rugi, Kardinal, Ordinal

Daftar Isi : PERILAKU PRODUKSI | B. KONDISI SAAT PRODUKSI MENGALAMI UNTUNG, IMPAS DAN RUGI | C. CONTOH KASUS KETIKA PRODUKSI MENGALAMI UNTUNG, IMPAS DAN RUGI | D. PERHITUNGAN BEP DARI PRILAKU PRODUKSI | E. PENDEKATAN KARDINAL DAN ORDINAL | F. 1 CONTOH JENIS BARANG INELASTISITAS akan kerozzi bagi untuk saat ini setelah beberapa minggu yang lalu posting artikel Perbedaan pasar monopoli, Monopolistik, Monopsoni, oligopoli, persaingan sempurna
Perilaku Produsi
Disusun Oleh :
Nur Mazidah

A. PERILAKU PRODUKSI

Seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan:
1) berapa output yang harus diproduksikan, dan
2) berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan.
Untuk menyederhanakan pembahasan secara teoritis, dalam menentukan keputusan tersebut digunakan dua asumsi dasar:
1) bahwa produsen atau pengusaha selalu berusaha mencapai keuntungan yang maksimum, dan
2) bahwa produsen atau pengusaha beroperasi dalam pasar persaingan sempurna.
Dalam teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk. Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan:
Y = f (X1, X2, X3, ……….., Xn) ; dimana Y = tingkat produksi (output) yang dihasilkan dan X1, X2, X3, ……, Xn adalah berbagai faktor produksi (input) yang digunakan. Fungsi ini masih bersifat umum, hanya bisa menjelaskan bahwa produk yang dihasilkan tergantung dari faktor-faktor produksi yang dipergunakan, tetapi belum bisa memberikan penjelasan kuantitatif mengenai hubungan antara produk dan faktor-faktor produksi tersebut. Untuk dapat memberikan penjelasan kuantitatif, fungsi produksi tersebut harus dinyatakan dalam bentuknya yang spesifik, seperti misalnya:
a) Y = a + bX ( fungsi linier)
b) Y = a + bX – cX2 ( fungsi kuadratis)
c) Y = aX1
bX2
cX3
d ( fungsi Cobb-Douglas), dan lain-lain.
Dalam teori ekonomi, sifat fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hokum yang disebut : The Law of Diminishing Returns (Hukum Kenaikan Hasil Berkurang). Hukum ini menyatakan bahwa apabila penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input yang lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan.

B. KONDISI SAAT PRODUKSI MENGALAMI UNTUNG, IMPAS DAN RUGI

Kita mengetahui bahwa dari setiap hasil transaksi penjualan sejumlah output (Q) pada tingkat harga (P), produsen dihadapkan kepada 3 kemungkinan, yaitu untung, impas atau rugi. Penentuan kondisi untung, impas atau rugi sebagai berikut :
1. kondisi untung tercapai apabila total penerimaan perusahaan lebih besar daripada total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu output produk
2. kondisi titik impas tercapai apabila total penerimaan perusahaan sama persisi dengan total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan output produk
3. kondisi rugi tercapai apabila total penerimaan perusahaan lebih kecil daripada total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan output produk
dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. TR > TC ---- > Ï€ > 0 ----> Untung
clip_image001[4]clip_image002[4]clip_image003[4] Bila b. TR = TC ---- > π = 0 ----> Impas
c. TR < TC ---- > π < 0----> Rugi

Ket.: Ï€ = Laba ( TR – TC )
TR = jumlah total seluruh penerimaan perusahaan (P x Q)
TC = jumlah total biaya yang dikeluarkan perusahaan (FC + VC)

C. CONTOH KASUS KETIKA PRODUKSI MENGALAMI UNTUNG, IMPAS DAN RUGI

PT. SJJ menjual produk Rp. 500,-/unit. Biaya tetap perusahaan tersebut Rp. 2 juta dan biaya variabelnya 50% dari pendapatan. jumlah barang yang terjual sejumlah 2.000 unit. Bagaimana kondisi perusahaan tersebut?
Penyelesaian :
P = 500
Q = 2.000
FC = 2.000.000
AVC = 50% x 500 = 250 --------> VC = 250 x Q = 250 x 2.000 = 500.000
Ï€ = TR – TC = (P x Q) – (FC + VC)
Ï€ = (1.000 x 2.000) – (2.000.000 + 500.000)
Ï€ = 2.000.000 – 2.500.000
Ï€ = - 500.000
jadi dapat disimpulkan bahwa perusahaan tersebut mengalami kerugian sebesar Rp. 500.000 karena π < 0
Lalu bagaimana agar perusahaan tersebut mengalami titik impas dan untung??
jawabannya Tentu saja ketika perusahaan tersebut memperoleh TR = TC ( Impas) dan TR > TC (Untung)
dan faktor untuk memperoleh nilai tersebut maka kuantiti penjualan produk harus ditambah
TR = TC
500.Q = 2.000.000 + 250.Q
250 Q = 2.000.000
Q = 8.000.unit
jadi perusahaan tersebut akan mengalami titik impas saat jumlah penjualan mencapai 8.000 unit dan akan mengalami keuntungan bila penjualannya lebih dari 8.000 unit

D. PERHITUNGAN BEP DARI PRILAKU PRODUKSI

Analisis titik impas merupakan salah satu konsep penting dalam kajian ekonomi mikro. Hal ini bukan saja berguna untuk menentukan besarnya tingkat output BEP tetapi juga dapat menentukan kapan tingkat output BEP tersebut akan tercapai serta besarnya penerimaan BEP. Pada dasarnya kondisi titik impas tercapai apabila total penerimaan perusahaan sama persisi dengan total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan output pada tingkat BEP tersebut (TR = TC). Pada tingkat penerimaan yang sama dengan biaya yang dikeluarkan, besarnya laba sama dengan nol (ketika TR = TC Þ p = 0).
a. Menentukan Kuantitas BEP atau BEP dalam unit (QBEP)
BEP tercapai bila TR = TC, karena TR = PQ dan TC = FC + VC maka
PQ = FC + VC
PQ – VC = FC
Q (P – AVC) = FC
QBEP = FC
(P - AVC)

b. Menentukan BEP dalam rupiah
Q = FC
(P - AVC)
PQ = FC.P = FC
(P - AVC) (P - AVC)/P
PQ = FC
(P/P - AVC/P)
BEP(Rp) = FC
(1 - AVC/P)

c. Menentukan Kuantitas Bila Ada Target Laba Sebesar p
TR – TC = p, karena TR = PQ dan TC = FC + VC maka
PQ – FC – VC = p
PQ – VC = FC + p
Q (P – AVC) = FC + p
Q = FC + p
(P - AVC)

d. Menentukan Kuantitas Bila Atas Laba Tersebut Dikenakan Pajak Sebesar T%
p - T ( p ) = p t
p (1 – T) = p t
p = p t karena p = TR – TC maka :
(1 - T)
TR – TC = p t karena TR = PQ dan TC = FC + VC maka
(1 - T)
PQ – FC – VC = p t
(1 - T)
PQ – VC = FC + p t
(1 - T)
Q (P – AVC) = FC + p t
(1 - T)
Q p t = FC + p
(1 - T)
(P - AVC)

CONTOH:
Berdasarkan soal PT SJJ di atas maka kita akan menentukan :
a. Kuantitas BEP (QBEP).
b. Penerimaan BEP (BEP dalam rupiah).
c. Kuantitas yang terjual bila ada target laba sebesar 10% dari penerimaan BEP (Qp).
d. Kuantitas yang terjual bila atas target laba tersebut dikenakan pajaksebesar 20%
(Qp t).
a. QBEP = FC = 2.000.000 = 8.000 unit
(P - AVC) 500 - 250
b. BEP(Rp) = FC = 2.000.000 = Rp. 4.000.000,-
(1 - AVC/P) 1 - (250/500)
c. Qp = FC + p = 2.000.000 + 400.000 = 9.600 unit
(P - AVC) 500 - 250


d. Q p t = FC + p = 2.000.00 + 400.000 = 10.000 unit
(1 - T) 1 - 0,2
(P - AVC) 500 - 250




E. PENDEKATAN KARDINAL DAN ORDINAL

- Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal
Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif : dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitif / dapat diukur, dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu keseimbangan konsumen dapat dicari dengan pendekatan kuantitatif.
- Kepuasan seorang konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Misalnya: mata uang.
- Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu.
Kepuasan marginal (marginal utility)
Tambahan kepuasan yang diperoleh dari penambahan jumlah barang yang dikonsumsi
Hukum tambahan kepuasan yang semakin menurun (The Law of Diminishing Marginal Utility)
Besarnya kepuasan marginal akan selalu menurun dengan bertambahnya jumlah barang yang dikonsumsi secara terus menerus.
Berikut fungsinya:
U = f ( X1, X2, X3………, Xn )
U : besar kecilnya kepuasan.
X : jenis dan jumlah barang yang dikonsumsi.
- Pendekatan nilai guna ordinal
Pendekatan nilai guna ordinal atau sering juga disebut analisis Kurva indeference : manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif / tidak dapat diukur.
Pendakatan ini muncul karena adanya keterbatasan - keterbatasan yang ada pada pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal tidak memiliki kelebihan.

- Kelemahan pendekatan ordinal
Kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Pada kenyataannya pengukuran semacam ini sulit dilakukan.

- Persamaan kardinal dan ordinal
Persamaan cardinal dan ordinal yaitu sama-sama menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility) .

- Perbedaan kardinal dan ordinal
• nilai guna (Utility) Kardinal menganggap bahwa besarnya utility dapat dinyatakan dalam angka/ bilangan. Sedangkan analisis ordinal besarnya utility dapat dinyatakan dalam bilangan / angka.
• Analisis cardinal mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal utiliy(pendekatan marginal). Sedangkan analisis ordinal menggunakan analisis indifferent curve atau kurva kepuasan sama .

F. 1 CONTOH JENIS BARANG INELASTISITAS

Barang inelastis adalah suatu barang yang saat terjadi perubahan harga tertentu hanya mengakibatkan presentase yang lebih kecil dari perubahan kuantitas yang diminta, dan bahkan tidak mengalami perubahan jumlah barang yang diminta. Barang dan jasa yang tidak memiliki substitusi biasanya tergolong inelastis
meskipun permintaan inelastis sering diasosiasikan dengan barang "kebutuhan," banyak juga barang yang bersifat inelastis meskipun konsumen mungkin tidak "membutuhkannya." Permintaan terhadap garam, misalnya, menjadi permintaan inelastis bukan karena konsumen sangat membutuhkannya, melainkan karena harganya yang sangat murah
DAFTAR PUSTAKA

http://jamiroquai-kamaludin.blogspot.com
http://afirdauz.blogspot.com/
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/
http://id.wikipedia.org/wiki/Elastisitas_permintaan
http://www.google.co.id

Demikian artikel Perilaku Produksi, Untung, Impas, Rugi, Kardinal, Ordinal yang bisa saya sampaikan. semoga bermanfaat yaaa..